Rabu, 26 Desember 2012

Makalah : Dampak Globalisasi terhadap Pandangan Hidup Generasi Muda



I.         PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Akhir-akhir ini masyarakat dihebohkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Terlebih lagi masalah globalisasi. Masyarakat dunia, khususnya generasi muda sudah sangat kenal dengan kata itu. Namun, apa sebenarnya globalisasi itu?
Kalau orang awam pastinya berpikir globalisasi itu berhubungan dengan keterbukaan dan koneksi secara global atau terjadi di seluruh dunia. Secara lebih kompleks, globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit. Atau bisa dikatakan globalisasi merupakan suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara.
Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama.
Terjadinya perubahan nilai-nilai sosial pada masyarakat, sehingga memunculkan kelompok spesialis diluar negeri dari pada dinegaranya sendiri, seperti meniru gaya punk, cara bergaul dan lain sebagainya. Hal ini yang mengakibatkan remaja sekarang sering meniru gaya orang luar negeri. Mereka beranggapan bisa menjadi lebih menarik jika melakukan hal itu. Padahal semua itu salah besar. Mereka tidak menyadari akan dampak yang akan diterima jika mereka sampai salah jalan. Apalagi mereka yang mulai memasuki dunia remaja dimana mereka sedang mencari jati diri.
Masa remaja yang dimaksudkan merupakan periode transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa. Banyaknya permasalahan dan krisis yang terjadi pada masa remaja ini menjadikan banyak ahli dalam bidang psikologi perkembangan menyebutnya sebagai masa krisis. Pada masa ini perubahan terjadi sangat drastis dan mengakibatkan terjadinya kondisi yang serba tanggung dan diwarnai oleh kondisi psikis yang belum mantap, selain dari pada itu periode ini pun dinilai sangat penting bahkan Erik Erikson (1998) menyatakan bahwa seluruh masa depan individu sangat tergantung pada penyelesaian krisis pada masa ini.

2.      Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini antara lain :
a.       Mengetahui bagaimana pengaruh globalisasi terhadap pandangan hidup generasi muda.
b.      Memenuhi tugas akhir semester pada mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar

3.      Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah :
a.       Memberikan pengetahuan kepada kita khususnya generasi muda bagaimana dampak globalisasi bagi pandangan hidup mereka
b.      Agar kita dapat menentukan sikap tanggap terhadap globalisasi yang dapat memberikan dampak negatif khususnya bagi generasi muda


II.      PERMASALAHAN
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia dihadapkan pada keterbukaan informasi baik nasional maupun internasional. Masyarakat bisa mengakses berita apapun yang terjadi di dunia tanpa membutuhkan waktu lama. Berbagai alat komunikasipun marak diperjual belikan. Dan sekarang mereka tak lagi jadi barang langka, karena setiap orang memilikinya. Setiap style baru yang lebih sering berasal dari negara barat, selalu jadi trend di negara kita. Inilah globalilsasi. Dimana semua hal yang mendunia, ditemui diseluruh penjuru kota.
Dari sinilah kehidupan masyarakat berubah. Mereka cenderung mengikuti apa yang mereka sering lihat. Terutama generasi muda. Generasi yang terkadang belum mampu mengontrol diri mereka sendiri untuk melakukan sesuatu yang mungkin akan memberi pengaruh buruk bagi masa depannya. Bahkan seringkali mereka hanya sekedar ikut terjun dalam dunia globalisasi tanpa tahu tujuan dan manfaat dari itu semua. Hal ini tentu akan merubah pandangan hidup mereka. Pandangan dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat global yang tak tau aturan. Sungguh miris.
Inilah yang akan dikaji dalam makalah ini. Bagaimana globalisasi mempengaruhi otak generasi muda bangsa Indonesia? Dan apa dampak yang akan ditimbulkan oleh itu semua!




III.   PEMBAHASAN
1.      Pengertian Globalisasi
a.       Secara etimologi
Menurut asal katanya, kata globalisasi diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.
b.      Menurut para ahli
[  Kenneth N. Waltz : berpendapat bahwa kita memandang globalisasi saling ketergantungan, dan itu saling ketergantungan yang terkait dengan perdamaian dan kedamaian semakin terbangun dengan adanya demokrasi.
[  Thomas L. Friedman : Globalisasi memiliki dimensi ideologi dan teknologi. Dimensi teknologi yaitu kapitalisme dan pasar bebas, sedangkan dimensi teknologi adalah teknologi informasi yang telah menyatukan dunia.
[  Princenton N. Lyman : Pengertian globalisasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat atas saling ketergantungan dan hubungan antara negara-negara didunia dalam hal perdagangan dan keuangan.
[  Malcom Waters : Globalisasi adalah sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, yang terjelma didalam kesadaran orang.
[  Emanuel Ritcher : Globalisasi adalah jaringan kerja global secara bersamaan menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasi kedalam saling ketergantungan dan persatuan dunia
[  Lucian W.  Pye, 1966 : Mengartikan globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat semenjak lama. 
[  Scholte : Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.
[  Steger : Globalisasi adalah kondisi sosial yang ditandai dengan adanya interkoneksi ekonomi, politik, budaya, dan lingkungan global dan arus yang membuat banyak dari perbatasan saat ini sudah ada dan batas-batas tidak relevan.
[  Anthony Giddens (1989) : Globalisasi merupakan proses peningkatan kesalingtergantungan masyarakat. Ditandai oleh kesenjangan tingkat kehidupan antara masyarakat industri dan masyarakat dunia ketiga (yang pernah dijajah Barat dan mayoritas hidup dari pertanian).
[  Wikipedia Ensiklopedia : Globalisasi atau penyejagatan adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.
[  Selo Soemardjan : globalisasi adalah suatu proses terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antarmasyarakat di seluruh dunia. Tujuan globalisasi adalah untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah tertentu yang sama misalnya terbentuknya PBB, OKI
[  Achmad Suparman : Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah
[  Joseph Stiglitz : Globalisasi adalah integrasi lebih dekat dari negara dan penduduk dunia, dibawa oleh pengurangan besar biaya transportasi dan komunikasi, dan dipatahkannya rintangan buatan untuk arus barang,jasa, modal, pengetahuan, dan orang di seluruh perbatasan.
[  Merriam Webster Dictionary : Globalisasi adalah perkembangan ekonomi global yang semakin terintegrasi ditandai terutama oleh perdagangan bebas, arus modal yang bebas, dan menekan lebih murah pasar tenaga kerja asing.
[  Dr. Nayef R.F. Al-Rodhan : Globalisasi adalah proses yang meliputi penyebab, kasus, dan konsekuensi dari integrasi transnasional dan transkultural kegiatan manusia dan non-manusia.
[  Kamus Besar Bahasa Indonesia : Globalisasi berarti proses masuknya ke ruang lingkup dunia.

2.      Ciri-Ciri Globalisasi
Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia, diantaranya adalah sebagai berikut :
v  Perubahan dalam konstantin ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.
v  Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization(WTO).
v  Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). Saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mendengar gagasan serta mengetahui pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
v  Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.

Kennedy dan Cohen menyimpulkan bahwa transformasi ini telah membawa kita pada globalisme, sebuah kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia adalah satu. Giddens menegaskan bahwa kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal sama, perubahan dan ketidakpastian, serta kenyataan yang mungkin terjadi. Sejalan dengan itu, Peter Drucker menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi sosial.

3.      Teori Globalisasi
Cochrane dan Pain menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan globalisasi, terdapat tiga posisi teoritis yang dapat dilihat, yaitu:
o  Para globalis percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. Meskipun demikian, para globalis tidak memiliki pendapat sama mengenai konsekuensi terhadap proses tersebut.
Ø  Para globalis optimistis dan positif menanggapi dengan baik perkembangan semacam itu dan menyatakan bahwa globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab.
Ø  Para globalis pesimis berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negatif karena hal tersebut sebenarnya adalah bentuk penjajahan barat (terutama Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka kemudian membentuk kelompok untuk menentang globalisasi (antiglobalisasi).
o  Para tradisionalis tidak percaya bahwa globalisasi tengah terjadi. Mereka berpendapat bahwa fenomena ini adalah sebuah mitos semata atau jika memang ada, terlalu dibesar-besarkan. Mereka merujuk bahwa kapitalisme telah menjadi sebuah fenomena internasional selama ratusan tahun. Apa yang tengah kita alami saat ini hanyalah merupakan tahap lanjutan atau evolusi dari produksi dan perdagangan kapital.
o  Para transformasionalis berada di antara para globalis dan tradisionalis. Mereka setuju bahwa pengaruh globalisasi telah sangat dilebih-lebihkan oleh para globalis. Namun, mereka juga berpendapat bahwa sangat bodoh jika kita menyangkal keberadaan konsep ini. Posisi teoritis ini berpendapat bahwa globalisasi seharusnya dipahami sebagai seperangkat hubungan yang saling berkaitan dengan murni melalui sebuah kekuatan, yang sebagian besar tidak terjadi secara langsung. Mereka menyatakan bahwa proses ini bisa dibalik, terutama ketika hal tersebut negatif atau setidaknya dapat dikendalikan.

4.      Proses Globalisasi
Perkembangan yang paling menonjol dalam era globalisasi adalah globalisasi informasi, demikian juga dalam bidang sosial seperti gaya hidup. Masyarakat indonesia khususnya generasi muda yang dulunya masih hidup dalam lingkup tradisional sekarang berubah menjadi remaja yang modern. Penuh gaya dan modis yang setara dengan remaja luar. Serta hal ini dapat dipicu dari adanya penunjang arus informasi global melalui siaran televisi baik langsung maupun tidak langsung, dapat menimbulkan rasa simpati masyarakat namun bisa juga menimbulkan kesenjangan sosial. 
Terjadinya perubahan nilai-nilai sosial ini, sehingga memunculkan kelompok spesialis diluar negeri dari pada dinegaranya sendiri, seperti meniru gaya punk, cara bergaul dan lain sebagainya.
Globalisasi terjadi karena faktor-faktor nilai budaya luar, seperti:
a.       selalu meningkatkan pengetahuan;                 
b.      patuh hukum
c.       kemandirian;                                                
d.      keterbukaan;                                                    
e.       rasionalisasi;
f.       etos kerja;
g.      kemampuan memprediksi;
h.      efisiensi dan produktivitas;
i.        keberanian bersaing;                                                   
j.        manajemen resiko.

Globalisasi terjadi melalui berbagai saluran, di antaranya:
a.       lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan
b.      lembaga keagamaan;
c.        indutri internasional dan lembaga perdagangan;
d.      wisata mancanegara;
e.       saluran komunikasi dan telekomunikasi internasional;
f.        lembaga internasional yang mengatur peraturan internasional; dan
g.      lembaga kenegaraan seperti hubungan diplomatik dan konsuler.

5.      Sekilas tentang Generasi Muda
Sebagai periode yang paling penting, masa remaja ini memiliki karakterisitik yang khas jika dibanding dengan periode-periode perkembangan lainnya. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut :

a.       Masa remaja adalah masa peralihan. 
Periode ini menuntut seorang anak untuk meninggalkan sifat-sifat kekanak-kanakannya dan harus mempelajari pola-pola perilaku dan sikap-sikap baru untuk menggantikan dan meninggalkan pola-pola perilaku sebelumnya. Selama peralihan dalam periode ini, seringkali seseorang merasa bingung dan tidak jelas mengani peran yang dituntut oleh lingkungan. 
b.      Masa remaja adalah periode perubahan. 
Terdapat lima karakteristik perubahan yang khas dalam periode ini yaitu, (1) peningkatan emosionalitas, (2) perubahan cepat yang menyertai kematangan seksual, (3) perubahan tubuh, minat dan peran yang dituntut oleh lingkungan yang menimbulkan masalah baru, (4) karena perubahan minat dan pola perilaku maka terjadi pula perubahan nilai, dan (5) kebanyakan remaja merasa ambivalent terhadap perubahan yang terjadi. 
c.       Masa remaja adalah usia bermasalah. 
Pada periode ini membawa masalah yang sulit untuk ditangani baik bagi anak laki-laki maupun perempuan. Hal ini disebabkan oleh dua alasan yaitu : pertama, pada saat anak-anak paling tidak sebagian masalah diselesaikan oleh orang tua atau guru, sedangkan sekarang individu dituntut untuk bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Kedua, karena mereka dituntut untuk mandiri maka seringkali menolak untuk dibantu oleh orang tua atau guru, sehingga menimbulkan kegagalan-kegagalan dalam menyelesaikan persoalan tersebut. 
d.      Masa remaja adalah masa pencarian identitas diri. 
Pada periode ini, konformitas terhadap kelompok sebaya memiliki peran penting bagi remaja. Mereka mencoba mencari identitas diri dengan berpakaian, berbicara dan berperilaku sebisa mungkin sama dengan kelompoknya. Salah satu cara remaja untuk meyakinkan dirinya yaitu dengan menggunakan simbol status, seperti mobil, pakaian dan benda-benda lainnya yang dapat dilihat oleh orang lain. 
e.       Masa remaja adalah usia yang ditakutkan. 
Masa ini seringkali ditakuti oleh individu itu sendiri dan lingkungan. Gambaran-gambaran negatif yang ada dibenak masyarakat mengenai perilaku remaja mempengaruhi cara mereka berinteraksi dengan remaja. Hal ini membuat para remaja itu sendiri merasa takut untuk menjalankan perannya dan enggan meminta bantuan orang tua atau pun guru untuk memecahkan masalahnya. 
f.       Masa remaja adalah masa yang tidak realistis. 
Remaja memiliki kecenderungan untuk melihat hidup secara kurang realistis, mereka memandang dirinya dan orang lain sebagaimana mereka inginkan dan bukannya sebagai dia sendiri. Hal ini terutama terlihat pada aspirasinya. Aspiriasi yang tidak realitis ini tidak sekedar untuk dirinya sendiri namun bagi keluarga dan teman. Semakin tidak realistis aspirasi mereka maka akan semakin marah dan kecewa apabila aspirasi tersebut tidak dapat mereka capai. 
g.      Masa remaja adalah ambang dari masa dewasa. 
Pada saat remaja mendekati masa dimana mereka dianggap dewasa secara hukum, mereka merasa cemas dengan stereotype remaja dan menciptakan impresi bahwa mereka mendekati dewasa. Mereka merasa bahwa berpakaian dan berperilaku seperti orang dewasa seringkali tidak cukup, sehingga mereka mulai untuk memperhatikan perilaku atau simbol yang berhubungan dengan status orang dewasa seperti merokok, minum, menggunakan obat-obatan bahkan melakukan hubungan seksual. 

Dari beberapa karakteristik di atas dapat kita simpulkan bahwa masa remaja (generasi muda) masih sangat labil. Mereka berada dalam tahap pencarian identitas diri, sehingga seringkali remaja memiliki sifat ingin tahu sangat tinggi. Apapun hal baru akan senantiasa mereka cobakan selagi mampu, sekalipun ada hambatan dari orang tua ataupun lingkungan. Inilah yang nantinya akan menyebabkan mereka jatuh dalam jurang kesalahan jika tidak memiliki kesadaran diri serta pengawasan dari orang tua masing-masing.

6.      Dampak Positif dan Negatif Globalisasi
Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga begitu kuat yang mana telah  membuat banyak remaja kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Ada pengaruh yang positif ada juga pengaruh yang negatif.
Indonesia adalah negara yang masyarakatnya mempunyai etika yang baik. Tapi saat ini banyak sekali remaja yang tidak sopan, tidak menghormati orang yang lebih tua darinya. Mungkin itu adalah pengaruh negatif dari Globalisasi. Dan itu menyebabkan pergaulan bebas, narkoba, dan lain-lain. Hal ini ditunjukkan dengan gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang.
Adapun pengaruh yang ditimbulkan oleh globalisasi terhadap generasi muda adalah sebagai berikut :
1.      Dampak Positif
a)      Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Di zaman saat Indonesia sedang di jajah dan setelah merdeka, tidak banyak dari remaja Indonesia saat itu yang dapat menempuh jenjang pendidikan. Hanya sebagian remaja anak dari bangsawan yang dapat menempuh jenjang pendidikan. Beberapa tahun setelah itu, sudah mulai terlihat peningkatan jumlah remaja yang menempuh jenjang pendidikan.
Walaupun demikian, jalan untuk menempuh pendidikan tidak semudah yang dibayangkan. Tidak sedikit dari mereka yang memiliki seragam sekolah dan buku pelajaran. Kebutuhan sekolah mereka masih sangat minimum untuk didapatkan. Masa demi masa, perkembangan mulai meningkat. Kini hampir seluruh remaja sudah dapat dengan mudah untuk mengenyam pendidikan apalagi dengan adanya Bantuan Operasional Sekolah yang diberikan oleh pemerintah. Bahkan pada masa kini, perkembangan ilmu pengetahuan sudah diikuti dengan perkembangan media elektronik, seperti televisi dan internet.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat menjadi lebih mudah dalam beraktivitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju.
b)      Perkembangan Media Komunikasi dan Elektronik
Pada zaman dahulu, media elektronik yang berkembang dalam masyarakat masih sangat minim seperti radio, televisi hitam putih serta telepon yang belum secanggih era ini. Berbanding terbalik dengan saat ini. Masyarakat dihadapkan pada alat-alat canggih. Sebut saja MP3 player, laptop, LCD TV, handphone dan berbagai macam peralatan canggih lainnya.
c)      Perkembangan Budaya
Dengan adanya globalisasi masyarakat khususnya indonesia menjadi lebih terbuka akan budaya luar. Mereka tidak hanya terpaku pada budaya indonesia sendiri. Sehingga pengetahuan yang mereka peroleh dari luar dapat memperkuat dan melahirkan ide-ide baru akan mode. Serta dengan adanya globalisasi ini budaya indonesia dapat dikenal bahkan diminati oleh negara-negara dari luar.
d)     Perubahan Tata Nilai dan Sikap.
Adanya modernisasi dan globalisasi dalam budaya menyebabkan pergeseran nilai dan sikap masyarakat yang semua irasional menjadi rasional.
e)      Tingkat Kehidupan yang lebih Baik.
Dibukanya industri yang memproduksi alat-alat komunikasi dan transportasi yang canggih merupakan salah satu usaha mengurangi penggangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
2.      Dampak Negatif
a)      Pola Hidup Konsumtif.
Perkembangan industri yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada. Ini menyebabkan masyarakat sederhana dapat berubah ke arah yang lebih konsumtif karena adanya berbagai pilihan tersebut.
b)      Sikap Individualistik.
Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktivitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial.
c)      Gaya Hidup Kebarat-baratan.
Tidak semua budaya Barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Budaya tersebut masuk tanpa ada filter dari masyarakat sehingga menyebabkan lunturnya budaya asli yang harusnya dipertahankan. Sebut saja dalam hal berpakaian. Masyarakat indonesia khususnya remaja seringkali mengikuti style barat yang tidak senonoh dan bahkan bertentangan dengan hukum di Indonesia.
d)     Kesenjangan Sosial.
Apabila dalam suatu komunitas masyarakat hanya ada beberapa individu yang dapat mengikuti arus modernisasi dan globalisasi maka akan memperdalam jurang pemisah antara individu dengan individu lain yang stagnan. Hal ini tentu akan menimbulkan kesenjangan sosial pada masyarakat kita, Indonesia.


7.      Globalisasi dan Pandangan Hidup Generasi Muda
Kehadiran globalisasi tentu berpeengaruh bagi masyarakat kita Indonesia, terutama di kalangan muda. Seperti yang telah diungkap sebelumnya, bahwa globalisasi dapat memberikan dampak positif maupun negatif bagi kita. Terlebih lagi jika dilihat aplikasinya pada kehidupan generasi muda. Dari luar saja kita dapat menilai bahwa globalisasi telah merasuk cukup dalam bagi kehidupan mereka.
Remaja yang dipandang sebagai jenjang dari masa kanak-kanak menuju suatu proses yang disebut dengan kedewasaan memang cenderung menjadi topik utama dalam pembahasan globalisasi. Karena mereka adalah subjek yang sangat berpengaruh dengan munculnya globalisasi pada era serba canggih ini. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah santapan sehari-hari bagi mereka yang haus akan perubahan. Serba simple dan cepat itulah moto hidup mereka. Karena itulah mereka sangat terbuka dengan kemajuan zaman yang sebenarnya memang menitikberatkan pada kebutuhan remaja.
Namun, tak selalu sesuatu itu bernilai positif. Sekalipun tujuan awalnya memang baik, tapi terkadang dalam penerapannya masih ditemukan kesenjangan yang menghasilkan pengaruh negatif. Lihat saja pada masalah globalisasi ini. Secara tidak langsung, globalisasi telah merubah pandangan hidup generasi muda bangsa ini. Nilai-nilai yang dulu ada disini, sekarang hilang ditelan zaman. Nilai kesopanan, etika dan budaya sudah hilang dalam pikiran remaja Indonesia. Mereka lebih tahu dan kenal dengan budaya-budaya dan trend yang datang dari luar.
Pola pikir dan pandangan yang awalnya baik sekarang berubah ke arah yang lebih buruk. Bagi mereka berpakaian minim dan tak tau aturan adalah trend yang harus mereka ikuti. Padahal cara berpakaian tersebut jelas-jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.
Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh riilnya adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.
Jika diabaikan sisi negatifnya, terkadang globalisasi juga memberikan pandangan yang  positif. Berbagai peralatan canggih yang lahir di era globalisasi dapat mempermudah berbagai sisi kehidupan manusia. Tidak terkecuali generasi muda. Misalnya saja dalam hal pendidikan. Dengan adanya laptop, handphone, dan akses internet dapat mempermudah mereka untuk mendapatkan informasi seputar pelajaran mereka. Teknologi yang mempermudah serta kecepatan akses dapat mempengaruhi pandangan hidup generasi muda.
Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa globalisasi benar-benar telah merubah pandangan hidup remaja kita.

8.      Cara Menanggulangi Efek Buruk Globalisasi pada Generasi Muda
Ketidakberdayaan tradisi dalam menghadapi kekuatan-kekuatan lain di luar dirinya tidak boleh dibiarkan begitu saja. Upaya-upaya pembakuan dan globalisasi yang mengarah pada proses pembunuhan tradisi harus dilawan, karena itu berarti pelenyapan atas sumber lokal yang diawali dengan krisis identitas lokal.
Upaya-upaya pembangunan jati diri bangsa Indonesia, termasuk didalamnya penghargaan nilai budaya dan bahasa, nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan dan cinta tanah air yang dirasakan semakin memudar dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Dalam kenyataannya didalam struktur masyarakat terjadi ketimpangan sosial, baik dilihat dari status maupun tingkat pendapatan. Kesenjangan sosial yang semakin melebar itu menyebabkan orang kehilangan harga diri. Budaya lokal yang lebih sesuai dengan karakter bangsa semakin sulit dicernakan sementara itu budaya global lebih mudah merasuk.
Dalam kasus Globalisasi Media, sekarang di Indonesia bermunculan lembaga-lembaga media watch yang keras sebai pers sebagai jawaban atas makin maraknya penerbitan yang tidak memperhitungkan masalah etika dan kode etik. Dimana melalui media massapun, kita dapat membangun media publik, karena media mempunyai kekuatan mengkonstruksi masyarakat. Misalnya melalui pemberitaan tentang dampak negatif pornografi. Komentar para ahli dan tokoh-tokoh masyarakat yang anti pornogrfi dan anti media pornografi serta tulisan-tulisan, gambar dan surat pembaca yang berisikan realitas yang dihadapi masyarakat dengan maraknya pornografi, maka media dapat dengan cepat mengkontruksikan masyarakat secara luas karena jangkauannya jauh.
Dalam masyarakat terutama di daerah pedesaan, dikenal adanya opinion leader atau pembuka pendapat atau tokoh masyarakat. Mereka mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk bertindak laku dalam cita-cita tertentu. Menurut Rogers (1983): ”pemuka pendapat memainkan peranan penting dalam penyebaran informasi. Melalui hubungan sosial yang intim, para pemuka pendapat berperan menyampaikan pesan-pesan, ide-ide dan informasi-informasi baru kepada masyarakat”. Melalui pemuka pendapat seperti tokoh agama, sesepuh desa, kepala desa, pesan-pesan tentang bahaya media pornografi dapat disampaikan.
Tapi yang lebih penting lagi adalah ketegasan Pemerintah dalam menerapkan hukum baik Undang-Undang Pers, Undang-Undang Perfilman dan Undang-Undang Penyiaran secara tegas dan konsisten disamping tentu saja partisipasi dari masyarakat untuk bersama-sama mencegah dampak buruk dari globalisasi media yang kalau dibiarkan bisa menghancurkan negeri ini.
Kemudian hal yang tidak kalah pentingnya dalam menghadapi globalisasi budaya adalah nilai-nilai kearifan lokal bukanlah nilai usang yang harus dimatikan, tetapi dapat bersinergi dengan nilai-nilai universal dan nilai-nilai modern yang dibawa globalisasi. Dunia internasional sangat menuntut demokrasi, hak asasi manusia, lingkungan hidup menjadi agenda pembangunan di setiap negara. Isu-isu tersebut dapat bersinergi dengan aktualisasi dari filosofi lokal yang dimiliki Indonesia, misalnya di Bali yang dikenal dengan ”Tri Hita Karana”, yang mengajarkan pada masyarakat Bali, bagaimana harus bersikap dan berperilaku yang selalu mengutamakan harmoni, keselarasan, keserasian dan keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia, dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa dalam melaksanakan hidup.
Beberapa cara mengantisipasi dampak negatif globalisasi adalah sebagai berikut:
Ø  Kerjasama yang selaras antara pihak sekolah baik tingkat SD, SMP, SMA, dan Universitas maupun lembaga sejenis dengan pihak wali/orang tua siswa dalam hal pengawasan kegiatan di dalam maupun di luar sekolah.
Ø  Berikan porsi pendidikan mental spiritual keagamaan yang sepadan baik di sekolah, maupun di lingkungan keluarga.
Ø  Orang tua harus pro aktif dalam menanyakan kegiatan yang dilakukan oleh anaknnya. Jangan dibiarkan berjalan sendiri tanpa arah.
Ø  Usahakan anak menonton acara yang mendidik. Hindari sinetron dan adegan cerita kaum dewasa. Jangan biarkan remaja seusia SD, SMP, menggunakan jasa internet tanpa didampingi, bahkan menggunakan jaringan komputer yang tidak menggunakan sistem blokir terhadap situs pornografi dan sebagainya. Apa lagi dibiarkan pergi ke warung internet yang tertutup tanpa didampingi orang yang lebih bijak.
Ø  Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.
Ø  Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
Ø  Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.
Ø  Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.

Oleh karena itu globalisasi yang tidak terhindarkan harus diantisipasi dengan pembangunan budaya yang berkarakter penguatan jati diri dan kearifan lokal yang dijadikan sebagai dasar pijakan dalam penyusunan strategi dalam pelestarian dan pengembangan budaya. Upaya memperkuat jati diri daerah dapat dilakukan melalui penanaman nilai-nilai budaya dan kesejarahan senasib dan sepenanggungan diantara warga sehingga perlu dilakukan revitalisasi budaya daerah dan perkuatan budaya daerah.

IV.  PENUTUP
1.      Kesimpulan
Saat ini kita hidup di zaman perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dimana semuanya serba canggih dan informasi dapat diakses dimana-mana. Ini menyebabkan terjadinya proses interaksi secara global yang mana sering disebut dengan istilah globalisasi. Menurut definisi globalisasi merupakan suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara.
Secara tidak langsung perubahan akan globalisasi ini kian terasa dalam masyarakat kita, terutama kaula muda. Mereka adalah subjek utama penikmat globalisasi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat besar pengaaruhnya dalam diri mereka. Baik itu pangaruh positif maupun negatifnya. Dan jika ini terus dibiarkan maka perlahan namun pasti globalisasi akan merubah pola pikir mereka dari yang dahulunya merupakan masyarakat tradisional, kaya akan budaya bangsa, namun sekarang menjadi warga global yang dapat mengakses dan mengikuti budaya apapun yang mereka mau.
Dilihat dari sisi positif ini tentu memberi efek baik bagi masa depan mereka. Karena dengan adanya globalisasi ini kita dapat berfikir lebih kristis serta dapat lebih memperluas pandangan hidup kita ke arah yang modern. Namun, tak luput dari efek negatif ini juga bisa menjadi hal yang menjatuhkan bangsa ini jika generasi mudanya tak mampu menjaga diri dari efek buruknya. Karena jika remajanya baik maka baik pulalah bangsa tersebut.
Untuk itu, perlu adanya antisipasi aktif dari berbagai pihak agar globalisasi dapat ditanggapi secara lebih kritis. Sehingga kita khususnya remaja dapat menikmati pengaruh baiknya dan meminimalisir pengaruh buruk yang mungkin akan ditimbulkan oleh globalisasi ini.

2.      Saran
Arus globalisasi memang sudah sangat kuat mempengaruhi bangsa ini. Dan perubahan yang signifikan dapat kita lihat pada prilaku remaja yang akhir-akhir ini seperti berubah mengikuti perkembangan zaman. Jika hal tersebut memberi efek baik bagi mereka tentu itu takkan jadi masalah. Tapi terkadang, sesuatu takkan bernilai baik apabila terletak di tangan yang salah.
Oleh sebab itu, untuk menanggapi dan mengantisipasi dampak buruk yang dapat dibawa oleh globalisasi perlu ditanamkan sikap berikut :
1.      Selektif dalam memilih style atau budaya baru yang masuk ke negara ini. jangan semuanya diikuti, karena tak seluruh budaya asing itu sesuai dengan pribadi bangsa Indonesia.
2.      Dibutuhkan pengawan dari berbagai pihak dalam menanggulangi efek buruk yang akan timbul pada remaja. Misalnya saja orang tua, orang yang berpengaruh baik dimasyarakat, maupun negara, pemerintah, pers bahkan petinggi negara. Karena ini masa depan bangsa berada ditangan generasi muda.

5 komentar: